Kita semua pasti pernah melihat kartun itu. Seekor gajah, monyet, pinguin, dan ikan dihadapkan pada satu ujian yang sama: "Manjat pohon." Di bawahnya, tertulis kutipan yang sering dikaitkan dengan Albert Einstein: "Everyone is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid."
Terdengar bijak? Tentu saja. Kutipan ini terasa memvalidasi perasaan kita bahwa setiap anak itu unik. Namun, jika kita telaah lebih dalam menggunakan kacamata sains pembelajaran, analogi ini ternyata salah dimensi dan justru bisa berbahaya bagi masa depan pendidikan anak.
Mengapa? Mari kita bedah satu per satu.
1. Manusia Bukan Spesies yang Berbeda-beda
Kesalahan terbesar dari analogi binatang tersebut adalah menyamakan perbedaan kemampuan belajar manusia dengan perbedaan biologis antarspesies.
Pada binatang, kemampuan seperti terbang atau berenang bersifat fixed (tetap) karena evolusi biologi. Ikan tidak akan pernah bisa memanjat pohon, tidak peduli seberapa keras ia berlatih. Namun, manusia berbeda. Kemampuan akademik dasar seperti membaca, berhitung, dan bernalar bukanlah kapasitas biologis tetap seperti insang atau sayap.
Otak manusia memiliki sifat neuroplastisitas. Kemampuan kognitif adalah hasil dari proses perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman, instruksi, dan lingkungan belajar. Tidak ada anak yang lahir dengan takdir "tidak bisa matematika" selayaknya ikan takdirnya berenang.
2. Standar Itu Perlu, Dukungan yang Sering Absen
Seringkali, argumen "ikan memanjat pohon" dipakai untuk menolak standarisasi dalam pendidikan. "Turunkan standarnya, kasihan anaknya tidak mampu," begitu kata sebagian orang.
Padahal, standar pendidikan—terutama pada level fundamental (literasi, numerasi, penalaran logis)—berfungsi sebagai penyeimbang struktural. Standar ini menjamin bahwa setiap anak, terlepas dari latar belakangnya, memiliki "perlengkapan bertahan hidup" di dunia modern.
Jika sebagian murid gagal mencapai standar tersebut, solusinya bukan menurunkan standarnya (menebang pohonnya agar pendek), melainkan memberikan tangga (dukungan/scaffolding).
Standar tidak boleh diturunkan hanya karena ada murid yang tertinggal.
Yang perlu diturunkan adalah hambatan belajarnya.
Meniadakan standar dengan alasan "bakat anak beda-beda" justru berisiko membiarkan anak hidup tanpa fondasi dasar yang merupakan hak asasi mereka.
3. Mitos "Bakat" vs Realitas "Sistem"
Benjamin Bloom, melalui konsep Learning for Mastery, menyatakan fakta yang mengejutkan:
"Given sufficient time and appropriate types of help, 95 percent of students can learn a subject to a high level of mastery."
Artinya, 95% anak sebenarnya mampu menguasai materi sulit jika diberikan waktu dan metode yang tepat. Ketika seorang murid gagal, seringkali itu bukan cermin dari ketidakmampuan individunya (bukan karena dia "bodoh"), melainkan karena sistem pembelajaran belum memfasilitasi kebutuhannya.
Mungkin dia butuh waktu lebih lama, mungkin dia butuh cara penjelasan visual, atau mungkin dia butuh pengulangan. Kegagalan murid adalah sinyal bagi sistem: "Apa yang belum kita berikan sehingga ia belum mampu?"
Kesimpulan: Ubah Pertanyaannya
Sudah saatnya kita berhenti menggunakan meme "ikan dan pohon" sebagai pembenaran untuk memaklumi ketertinggalan siswa.
Pendidikan yang adil bukan berarti membiarkan anak tidak bisa membaca karena dianggap "bakatnya bukan di situ". Pendidikan yang adil adalah pendidikan yang menyediakan tangga, pegangan, dan waktu bagi setiap anak untuk memanjat pohon pengetahuan yang tinggi itu.
Mari berhenti bertanya, "Kenapa murid ini tidak mampu?"
Dan mulai bertanya, "Dukungan apa yang belum disediakan sistem agar murid ini mampu?"
No comments:
Post a Comment